Selasa, 26 Juli 2016

Fragmen Satu: Part 1, Wanita Jahat?

Wanita itu menjawab dengan lembut, tapi menusuk, "Tidak Mba, saya tidak akan pergi dari suami Mba, selama bukan suami Mba yang meminta. Saya juga berhak mendapatkan seorang imam untuk saya, Mba!"
Indi tertegun mendengar jawaban perempuan itu. Bukan hanya dia kecewa, ingin marah, dan kesal. Ia tidak menyangka seorang wanita bisa berkata sejahat itu pada wanita lainnya. Pada wanita yang sedang mempertahankan suaminya demi keutuhan rumah tangganya dan demi anak-anaknya.
Indi menggigil. Sejak awal ia tahu kalau wanita di hadapannya ini bukanlah wanita baik-baik. Karena tidak ada wanita baik-baik yang mau diajak pergi-pergi oleh suami orang. Wanita ini selain bukan wanita baik-baik, juga wanita jahat.
Apa beda bukan wanita baik-baik dengan wanita jahat? Bukan wanita baik-baik adalah wanita yang tidak mengerti atau tidak ingin mengerti seperti apa moral yang benar. Tapi wanita jahat adalah satu tingkat di atas itu, dia bukan hanya tak bermoral baik, namun ia akan melakukan hal apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan!
--***--

"Mas, makan yuk, makanannya udah siap tuh."
Indi menjawil dagu Tri, suaminya, yang sedang asyik mengetik sesuatu di iphone 6 plus warna putih.
"Iya, ayang siapin aja dulu nasinya. Nanti mas nyusul.”
"Ya ampun mas, benar-benar deh sama hand phone tuh udah kayak sama soulmate, nggak bisa lepas." Indi menggelengkan kepala melihat polah suaminya yang berbicara padanya namun pandangannya tak lepas dari handphone yang dipegang.
Indi pun berjalan menuju meja makan. Mengambil piring dan menyendokkan nasi ke dalamnya. Ia menunggu semenit, dua menit, tiga menit, tak ada pergerakan dari Tri.
"Mas..."
"Okay, okay, siap boss. Mas datang! Jangan galak-galak kenapa sih..."
"Siapa yang galak? Ayang cuma ga mau mas sakit kalau makannya ga teratur, salah?"
"Iya, iya. Yuk, makan yuk."
(Continued)


Fragmen Dua: Part 1, Masa Hijau

            Indi berjalan tergesa menyusuri jalanan konblok yang kanan kirinya diteduhi dengan pohon-pohon karet. Jalanan yang dilaluinya bukan hanya sangat rimbun, namun juga sejuk dan tenang. Jalanan setapak yang rimbun itu sangat terkenal di kalangan para mahasiswa perantauan maupun mereka-mereka yang tidak mengendarai kendaraan bermotor menuju fakultas masing-masing, jalan setapak di dalam kampus negeri yang sangat luas itu sering disebut sebagai balhut alias balik hutan. Dan saat ini Indi sedang bergegas menuju kampusnya, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Jadwal kuliahnya akan dimulai sekitar 10 menit lagi, menurut perhitungannya ia akan sampai di kelas tepat waktu.
            Beberapa langkah lagi menuju kelasnya, ada suara yang meneriakan namanya, “Ndi! Indi!”
            Sejurus kemudian Indi menengok mencari si empunya suara. Ah, si jilbab biru. Temannya satu angkatan namun beda jurusan. Indi berkuliah di jurusan sastra sedangkan si kerudung biru berkuliah di jurusan sejarah.
“Ada apa teh?” Indi menyahut panggilan si kerudung biru yang ia panggil Teteh. Nama aslinya Raisya, namun karena Raisya lebih tua dua tahun darinya maka ia memanggilnya dengan sebutan teteh, Indi memakai sebutan teteh karena Raisya berasal dari Garut..
“Ndi, kelar kuliah jam berapa?”
“Jam 13.45 insya allah, kunaon kitu?” Indi yang juga memiliki sedikit darah sunda reflek mengeluarkan bahasa sundanya saat berbincang dengan Raisya.
“Ada yang mau aku omongin. Nanti ketemuan di musholah aja lah ya.”
“Eleuh, apa atuh Teh? Ulah bikin pinisirin dung.” Indi mencoba mengorek keterangan dari Raisya, tapi yang dikorek hanya bungkam sambil tersenyum usil.
“Sampai jumpa di musholah ya.”
Sebetulnya Indi masih ingin mengorek sediki saja tentang apa yang mau dibicarkan nanti oleh Teh Isya, panggilan akrab Raisya, namun karena bel sudah berbunyi dan dosennya sudah berjalan menuju kelas, Indi hanya mengangguk sambil membentuk ibu jari dan telunjuknya menjadi seperti huruf ‘O’.

“Ndi, bawa baju nggak?” Raisya bertanya pada Indi yang sedang melipat mukena setelah shalat dzuhur di musholah kampus.
“Baju ganti? Nggak. Kenapa emangnya Teh?”
“Apa pake baju aku aja deh. Nanti nginep di kamarku aja, kita ngobrol sampai pagi deh di sana. Aku ternyata ada jadwal ngajar sore ini jam 3. Makanya nggak bisa bicara sama Indi sekarang. Gimana?”
“Hooo gitu. Emang mau bicarain apa sih?” Indi penasaran.
“Nanti aja deh, kalau dibocorin sekarang mah nggak seru. Ndi kalau mau duluan ke kamar asrama, minta kuncinya aja di mba’e. Masih inget mba’e kan?”
“Oh, inget. Anak Keperawatan kan? Yang kamarnya selisih satu pintu dari kamar teteh?”
“Betul! Tunggu aku ya. Aku kelas ngajar sekitar abis maghrib kok. Ga ada jadwal malam.”
“Oke deh, sip. Aku ngebolang di kampus aja deh dulu.”
Sore itu, sambil menunggu maghrib, Indi menghabiskan waktu di perpustakaan. Tempat favoritnya, selain karena ia sangat suka buku, perpustakaan kampusnya memang nyaman sekali, bahkan untuk tidur hehehe. Dan saat ini Indi sedang mencari sebuah buku tentang pemikiran seorang filsuf barat, Plato, untuk melengkapi tugas kuliah Dasar-Dasar Filsafatnya.
Lemari buku yang berjajar dari ujung ke ujung, berisikan deretan-deretan buku-buku koleksi kampus, baik buku baru maupun tendon*, rupanya merupakan pemandangan yang entah mengapa sangat dinikmati oleh Indi. Ia dengan buku-buku jarinya menyentuh setiap punggung buku yang ada di situ. Meneliti satu persatu judul yang tertulis di sana, mengambilnya, mengecek sebentar daftar isi dan isinya, lalu mengembalikan ke tempatnya semula dan mencari buku lain yang jauh lebih tepat. Ada sekitar 15 menit Indi melakukan hal itu ketika ia melihat seorang gadis manis berpipi tembam yang duduk di salah satu sudut lantai dua perpustakaan.
Tak perlu memastikan dua kali bagi Indi untuk bisa mengenali gadis berkulit cerah itu, kulit yang dimiliki oleh gadis-gadis Palembang. Indi sudah mengenalinya sejak melihat cara berkerudungnya, khas. Baru saja hendak mencolek pundak gadis itu, tetiba ia sudah menengok kea rah Indi.
“Lha In, lagi nyari buku apa?” suaranya yang juga khas, menyapa Indi dengan riang.
“Yah, Tha, baru aja mau aku towel, tau-tau kamu udah nengok duluan.” Indi tidak menjawab pertanyaan gadis yang bernama Maretha itu.
“Hahahaha, sudah masuk radarku tau. Makanya aku udah tau sebelum kamu colek!”
“Halah, gee r!”
“Tumben belum pulang, In?”
“Lagi nunggu maghrib, Tha. Nanti mau ke asrama. Teteh minta aku nginep di sana, ada yang mau diomongin katanya.”
“Haaa Teteh udah bilang?” mata Retha berbinar lucu.
“Bilang apa?”
“Oh, berarti belum bilang ya. Ya udah, tunggu aja. Nanti aku ikutan ngobrolnya kok, hehehehe.”
“Ya ampun, kalian ada apaan sih, dari tadi sok berteka-teki gini?”
“Udah, ga usah dipikirin. Eh, apa mau ke asrama sekarang? Main ke kamarku aja dulu, makan di kantin asrama aja, lebih murah hohoho.”
“Eh boleh tuh. Kangen masakan kantin asrama. Bisa makan puas tapi aman di kantong hehehe.”
“Hayoklah kalau begitu.”

Ketika langit sore mewarnai dirinya dengan oranye khas lembayung senja, kedua mahasiswi berjilbab itu melangkahkan kaki menuju halte bikun terdekat, menanti bis kuning yang akan mengantar mereka ke asrama.
                                                  ---***---

Senin, 11 April 2016

Selamat Datang di Pelangi Abu-Abu

Selamat datang di blog Pelangi Abu-Abu...
blog ini dibuat sebagai tempat menuliskan cerita fiksi based on true story yang saya buat, judulnya Pelangi Abu-Abu.
mungkin postigannya tidak jelas akan perberapa kali, namun insya allah kontinyu.
mohon jangan kaitkan kisah ini dengan kehidupan sesiapapun, karena saya mengambil banyak sekali rujukan untuk kisah ini, mulai dari pengalaman pribadi, teman, dari berita, dsb.

enjoy :)