Sabtu, 01 Juli 2017

Fragmen Satu: Part 2, Feeling Wanita

Sebetulnya kecurigaannya terhadap segala tingkah laku Tri sudah ada sejak beberapa bulan yang lalu. Semenjak sebelum suaminya pergi ke negeri bunga sakura untuk mengikuti sebuah acara di organisasi yang diikutinya.

Memang ia belum menemukan bukti apapun saat itu, namun feelingnya bermain sangat kuat di sana. Perasaan cemasnya tak kunjung reda ketika suaminya berada di negeri yang terkenal dengan animenya itu. Setiap kali suaminya menelepon, entah mengapa justru pertengkaran yang terjadi. Ada saja hal yang ia curigai, mulai dari foto-foto yang dikirim, tag foto yang tidak di-approve di media sosial suaminya, sampai suara tawa renyah seorang wanita di samping suaminya saat suaminya tengah meneleponnya. Untuk urusan foto ia masih bisa menahan diri untuk tidak bertanya, namun untuk hal terakhir ia langsung menanyakannya.

"Itu suara siapa?" Indi bertanya tergesa.

"Oh, temen, dari Chapter Bandung. Lagi main ke kamar." Jawab Tri sekenanya.

"Siapa? Kok sampai main ke kamar? Sendirian? Kok bisa sih? Ga risih?" Indi memberondong pertanyaan kepada Tri.
Yang ditanya jelas tidak nyaman. Namun jangan salah, perasaan Indi saat itu sangat kalut. Ia sangat khawatir dengan suara perempuan dan kamar. Bukan salahnya jika pikiran macam-macam hadir di benaknya. Mengingat suaminya sedang jauh di sana, bertemu wanita, di negara yang konon romantis, ditambah ia juga menyadari jika organisasi ini bukanlah organisasi 'hijau' yang banyak berisi dan berpaham ingat akhirat, organisasi ini berbeda dari organisasi-organisasi yang biasa ia ikuti.

"Ayang kenapa sih? Jangan suudzan gitulah sama suaminya. Dia juga ga sendiri kok. Ini ada teman-teman lainnya juga dari Bandung. Lagian kayak mas ga tau batasan aja, sih?!" Yang di seberang sana menjawab agak sewot.

Indi kesal, sedih, kecewa, sejujurnya. Ia merasa Tri semakin mencair. Berbeda dengan Tri yang ia kenal dulu, supel namun masih tahu batasan. Tri yang ia kenal tak akan mendekati wanita sampai sejauh ini, ia memang ramah, namun ia tahu mana yang boleh dan yang tidak.

"Beneran ada orang lain lagi selain kalian berdua?" Indi bertanya, tapi sebetulnya mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri bahwa suaminya masih tahu batasan, meski ini adalah langkah yang sangat sulit.

"Ayang kenapa sih? Kita lagi jauh begini, dan ayang ga percaya sama mas?! Sebagai istri harusnya ayang doain yang terbaik untuk suaminya, bukan dicemburuin ga jelas begini, diberondong pertanyaan, dan dicurigai. Laki-laki mana ada yang tahan!"

Indi tercekat. Air mata yang sudah sejak tadi menggenang di pelupuknya kini menetes di jilbabnya. Kenapa Tri seperti ini? Indi sangat kecewa, sangat sedih. Daripada keluar hal-hal yang lebih buruk dalam kata-katanya, ia memilih menutup telepon via media sosial pribadi tersebut.

Ia ingin sekali menangis, mengadu, tapi entah pada siapa. Namun belum lagi ia menangis puas, hp-nya kembali berdering. Telepon masuk dari suaminya.
Ia memutuskan tidak mengangkatnya. Ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya.
Namun telepon itu terus menerus berdering. Lalu berganti pesan masuk. Lalu berdering lagi. Terus saja demikian sampai 5 menitan. Hingga akhirnya membuat Indi memutuskan untuk mengangkatnya.

"Ayang kenapa sih? Nggak ada sopan santunnya banget sama suami, main tutup-tutup aja! Mas ini udah ngeluangin waktu untuk nelepon di sela-sela jadwal mas yang padat di sini! Mau nanyain kabar ayang, mau nanyain dan ngobrol sama anak-anak, tapi yang mas dapat apa? Cemburu lagi, curiga lagi, ditutup lagi teleponnya. Ayang tuh keterlaluan banget jadi istri!"

Indi ingin sekali melempar barang di dekatnya yang bisa ia raih. Ia merasa sakit hati dengan perlakuan yang diterimanya. Ia cemburu, gundah, gelisah, lalu ketika mengungkapkannya pada suami satu-satunya ia justru mendapat respon demikian. Ia butuh jeda, butuh nafas, butuh waktu berpikir jernih. Namun Tri tidak memberikannya. Tri memang tipe yang demikian, tak pernah sabar menyelesaikan masalah rumah tangga, alasannya agar tidak jadi pemikirannya karena ia harus memikirkan yang lain. Namun bagi Indi, ini hal berat karena Indi tipe yang harus ada jeda untuk bisa menyerap dan berpikir ulang.


Ketika hening di antara mereka, lagi-lagi suara wanita di dekat suaminya terdengar. Suara khas seperti yang biasanya Indi keluarkan saat sedang berdua dengan Tri, suara yang manja dan mendayu. Namun bedanya suara ini kental sekali dengan aksen sundanya, terdengar sangat renyah, terdengar sangat menggoda.

Tubuh Indi terdiam. Dia ingin sekali secepatnya mengakhiri semua percakapan ini dan berlari agar bisa sampai ke tempat di mana suaminya berada saat ini untuk membuktikan kebenaran perkataan suaminya yang sedang berusaha meyakinkannya.
Namun sebagai seorang ibu rumah tangga tanpa penghasilan, ia tak memiliki cukup tabungan untuk sekadar membayar ongkos ke bandara. Pun ada uang, itu pegangan dari suaminya selama suaminya pergi, dan peruntukannya adalah untuk anak-anak mereka. Indi bukan tipe yang memakai uang dari suami untuk kepentingan pribadi, anak selalu diutamakan. Bahkan meski ia harus nombok, ia rela mengambil jatah jajan kosmetik dan perawatannya yang tidak sampai setengah juta perbulan untuk menutupi kebutuhan anak-anak, asalkan anak-anak sehat dan bahagia.

Indi tak bisa berpikir jernih. Pikirannya melayang ke mana-mana. Air matanya sudah membasahi jilbab dan bajunya. Dan hatinya sudah tak berbentuk. Apapun yang kemudian disampaikan oleh suaminya di telepon, tak mampu ia cerna.

Dan setelah telepon itu ditutup, Indi menangis sejadi-jadinya di atas kasur. Ia menutupi wajahnya dengan bantal agar tak ada orang yang mendengar isaknya.

Indi tak tahu ini adalah awal mula dari rangkaian baru takdir hidupnya. Yang Indi tahu, hatinya hancur.

Selasa, 26 Juli 2016

Fragmen Satu: Part 1, Wanita Jahat?

Wanita itu menjawab dengan lembut, tapi menusuk, "Tidak Mba, saya tidak akan pergi dari suami Mba, selama bukan suami Mba yang meminta. Saya juga berhak mendapatkan seorang imam untuk saya, Mba!"
Indi tertegun mendengar jawaban perempuan itu. Bukan hanya dia kecewa, ingin marah, dan kesal. Ia tidak menyangka seorang wanita bisa berkata sejahat itu pada wanita lainnya. Pada wanita yang sedang mempertahankan suaminya demi keutuhan rumah tangganya dan demi anak-anaknya.
Indi menggigil. Sejak awal ia tahu kalau wanita di hadapannya ini bukanlah wanita baik-baik. Karena tidak ada wanita baik-baik yang mau diajak pergi-pergi oleh suami orang. Wanita ini selain bukan wanita baik-baik, juga wanita jahat.
Apa beda bukan wanita baik-baik dengan wanita jahat? Bukan wanita baik-baik adalah wanita yang tidak mengerti atau tidak ingin mengerti seperti apa moral yang benar. Tapi wanita jahat adalah satu tingkat di atas itu, dia bukan hanya tak bermoral baik, namun ia akan melakukan hal apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan!
--***--

"Mas, makan yuk, makanannya udah siap tuh."
Indi menjawil dagu Tri, suaminya, yang sedang asyik mengetik sesuatu di iphone 6 plus warna putih.
"Iya, ayang siapin aja dulu nasinya. Nanti mas nyusul.”
"Ya ampun mas, benar-benar deh sama hand phone tuh udah kayak sama soulmate, nggak bisa lepas." Indi menggelengkan kepala melihat polah suaminya yang berbicara padanya namun pandangannya tak lepas dari handphone yang dipegang.
Indi pun berjalan menuju meja makan. Mengambil piring dan menyendokkan nasi ke dalamnya. Ia menunggu semenit, dua menit, tiga menit, tak ada pergerakan dari Tri.
"Mas..."
"Okay, okay, siap boss. Mas datang! Jangan galak-galak kenapa sih..."
"Siapa yang galak? Ayang cuma ga mau mas sakit kalau makannya ga teratur, salah?"
"Iya, iya. Yuk, makan yuk."
(Continued)


Fragmen Dua: Part 1, Masa Hijau

            Indi berjalan tergesa menyusuri jalanan konblok yang kanan kirinya diteduhi dengan pohon-pohon karet. Jalanan yang dilaluinya bukan hanya sangat rimbun, namun juga sejuk dan tenang. Jalanan setapak yang rimbun itu sangat terkenal di kalangan para mahasiswa perantauan maupun mereka-mereka yang tidak mengendarai kendaraan bermotor menuju fakultas masing-masing, jalan setapak di dalam kampus negeri yang sangat luas itu sering disebut sebagai balhut alias balik hutan. Dan saat ini Indi sedang bergegas menuju kampusnya, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Jadwal kuliahnya akan dimulai sekitar 10 menit lagi, menurut perhitungannya ia akan sampai di kelas tepat waktu.
            Beberapa langkah lagi menuju kelasnya, ada suara yang meneriakan namanya, “Ndi! Indi!”
            Sejurus kemudian Indi menengok mencari si empunya suara. Ah, si jilbab biru. Temannya satu angkatan namun beda jurusan. Indi berkuliah di jurusan sastra sedangkan si kerudung biru berkuliah di jurusan sejarah.
“Ada apa teh?” Indi menyahut panggilan si kerudung biru yang ia panggil Teteh. Nama aslinya Raisya, namun karena Raisya lebih tua dua tahun darinya maka ia memanggilnya dengan sebutan teteh, Indi memakai sebutan teteh karena Raisya berasal dari Garut..
“Ndi, kelar kuliah jam berapa?”
“Jam 13.45 insya allah, kunaon kitu?” Indi yang juga memiliki sedikit darah sunda reflek mengeluarkan bahasa sundanya saat berbincang dengan Raisya.
“Ada yang mau aku omongin. Nanti ketemuan di musholah aja lah ya.”
“Eleuh, apa atuh Teh? Ulah bikin pinisirin dung.” Indi mencoba mengorek keterangan dari Raisya, tapi yang dikorek hanya bungkam sambil tersenyum usil.
“Sampai jumpa di musholah ya.”
Sebetulnya Indi masih ingin mengorek sediki saja tentang apa yang mau dibicarkan nanti oleh Teh Isya, panggilan akrab Raisya, namun karena bel sudah berbunyi dan dosennya sudah berjalan menuju kelas, Indi hanya mengangguk sambil membentuk ibu jari dan telunjuknya menjadi seperti huruf ‘O’.

“Ndi, bawa baju nggak?” Raisya bertanya pada Indi yang sedang melipat mukena setelah shalat dzuhur di musholah kampus.
“Baju ganti? Nggak. Kenapa emangnya Teh?”
“Apa pake baju aku aja deh. Nanti nginep di kamarku aja, kita ngobrol sampai pagi deh di sana. Aku ternyata ada jadwal ngajar sore ini jam 3. Makanya nggak bisa bicara sama Indi sekarang. Gimana?”
“Hooo gitu. Emang mau bicarain apa sih?” Indi penasaran.
“Nanti aja deh, kalau dibocorin sekarang mah nggak seru. Ndi kalau mau duluan ke kamar asrama, minta kuncinya aja di mba’e. Masih inget mba’e kan?”
“Oh, inget. Anak Keperawatan kan? Yang kamarnya selisih satu pintu dari kamar teteh?”
“Betul! Tunggu aku ya. Aku kelas ngajar sekitar abis maghrib kok. Ga ada jadwal malam.”
“Oke deh, sip. Aku ngebolang di kampus aja deh dulu.”
Sore itu, sambil menunggu maghrib, Indi menghabiskan waktu di perpustakaan. Tempat favoritnya, selain karena ia sangat suka buku, perpustakaan kampusnya memang nyaman sekali, bahkan untuk tidur hehehe. Dan saat ini Indi sedang mencari sebuah buku tentang pemikiran seorang filsuf barat, Plato, untuk melengkapi tugas kuliah Dasar-Dasar Filsafatnya.
Lemari buku yang berjajar dari ujung ke ujung, berisikan deretan-deretan buku-buku koleksi kampus, baik buku baru maupun tendon*, rupanya merupakan pemandangan yang entah mengapa sangat dinikmati oleh Indi. Ia dengan buku-buku jarinya menyentuh setiap punggung buku yang ada di situ. Meneliti satu persatu judul yang tertulis di sana, mengambilnya, mengecek sebentar daftar isi dan isinya, lalu mengembalikan ke tempatnya semula dan mencari buku lain yang jauh lebih tepat. Ada sekitar 15 menit Indi melakukan hal itu ketika ia melihat seorang gadis manis berpipi tembam yang duduk di salah satu sudut lantai dua perpustakaan.
Tak perlu memastikan dua kali bagi Indi untuk bisa mengenali gadis berkulit cerah itu, kulit yang dimiliki oleh gadis-gadis Palembang. Indi sudah mengenalinya sejak melihat cara berkerudungnya, khas. Baru saja hendak mencolek pundak gadis itu, tetiba ia sudah menengok kea rah Indi.
“Lha In, lagi nyari buku apa?” suaranya yang juga khas, menyapa Indi dengan riang.
“Yah, Tha, baru aja mau aku towel, tau-tau kamu udah nengok duluan.” Indi tidak menjawab pertanyaan gadis yang bernama Maretha itu.
“Hahahaha, sudah masuk radarku tau. Makanya aku udah tau sebelum kamu colek!”
“Halah, gee r!”
“Tumben belum pulang, In?”
“Lagi nunggu maghrib, Tha. Nanti mau ke asrama. Teteh minta aku nginep di sana, ada yang mau diomongin katanya.”
“Haaa Teteh udah bilang?” mata Retha berbinar lucu.
“Bilang apa?”
“Oh, berarti belum bilang ya. Ya udah, tunggu aja. Nanti aku ikutan ngobrolnya kok, hehehehe.”
“Ya ampun, kalian ada apaan sih, dari tadi sok berteka-teki gini?”
“Udah, ga usah dipikirin. Eh, apa mau ke asrama sekarang? Main ke kamarku aja dulu, makan di kantin asrama aja, lebih murah hohoho.”
“Eh boleh tuh. Kangen masakan kantin asrama. Bisa makan puas tapi aman di kantong hehehe.”
“Hayoklah kalau begitu.”

Ketika langit sore mewarnai dirinya dengan oranye khas lembayung senja, kedua mahasiswi berjilbab itu melangkahkan kaki menuju halte bikun terdekat, menanti bis kuning yang akan mengantar mereka ke asrama.
                                                  ---***---

Senin, 11 April 2016

Selamat Datang di Pelangi Abu-Abu

Selamat datang di blog Pelangi Abu-Abu...
blog ini dibuat sebagai tempat menuliskan cerita fiksi based on true story yang saya buat, judulnya Pelangi Abu-Abu.
mungkin postigannya tidak jelas akan perberapa kali, namun insya allah kontinyu.
mohon jangan kaitkan kisah ini dengan kehidupan sesiapapun, karena saya mengambil banyak sekali rujukan untuk kisah ini, mulai dari pengalaman pribadi, teman, dari berita, dsb.

enjoy :)