Indi berjalan tergesa menyusuri
jalanan konblok yang kanan kirinya diteduhi dengan pohon-pohon karet. Jalanan
yang dilaluinya bukan hanya sangat rimbun, namun juga sejuk dan tenang. Jalanan
setapak yang rimbun itu sangat terkenal di kalangan para mahasiswa perantauan
maupun mereka-mereka yang tidak mengendarai kendaraan bermotor menuju fakultas
masing-masing, jalan setapak di dalam kampus negeri yang sangat luas itu sering
disebut sebagai balhut alias balik hutan. Dan saat ini Indi sedang bergegas
menuju kampusnya, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Jadwal kuliahnya akan dimulai
sekitar 10 menit lagi, menurut perhitungannya ia akan sampai di kelas tepat
waktu.
Beberapa langkah lagi menuju
kelasnya, ada suara yang meneriakan namanya, “Ndi! Indi!”
Sejurus kemudian Indi menengok
mencari si empunya suara. Ah, si jilbab biru. Temannya satu angkatan namun beda
jurusan. Indi berkuliah di jurusan sastra sedangkan si kerudung biru berkuliah
di jurusan sejarah.
“Ada apa teh?” Indi menyahut panggilan si kerudung biru yang ia panggil
Teteh. Nama aslinya Raisya, namun karena Raisya lebih tua dua tahun darinya
maka ia memanggilnya dengan sebutan teteh, Indi memakai sebutan teteh karena Raisya
berasal dari Garut..
“Ndi, kelar kuliah jam berapa?”
“Jam 13.45 insya allah, kunaon kitu?” Indi yang juga memiliki sedikit
darah sunda reflek mengeluarkan bahasa sundanya saat berbincang dengan Raisya.
“Ada yang mau aku omongin. Nanti ketemuan di musholah aja lah ya.”
“Eleuh, apa atuh Teh? Ulah bikin pinisirin dung.” Indi mencoba mengorek
keterangan dari Raisya, tapi yang dikorek hanya bungkam sambil tersenyum usil.
“Sampai jumpa di musholah ya.”
Sebetulnya Indi masih ingin mengorek sediki saja tentang apa yang mau
dibicarkan nanti oleh Teh Isya, panggilan akrab Raisya, namun karena bel sudah
berbunyi dan dosennya sudah berjalan menuju kelas, Indi hanya mengangguk sambil
membentuk ibu jari dan telunjuknya menjadi seperti huruf ‘O’.
“Ndi, bawa baju nggak?” Raisya bertanya pada Indi yang sedang melipat
mukena setelah shalat dzuhur di musholah kampus.
“Baju ganti? Nggak. Kenapa emangnya Teh?”
“Apa pake baju aku aja deh. Nanti nginep di kamarku aja, kita ngobrol
sampai pagi deh di sana. Aku ternyata ada jadwal ngajar sore ini jam 3. Makanya
nggak bisa bicara sama Indi sekarang. Gimana?”
“Hooo gitu. Emang mau bicarain apa sih?” Indi penasaran.
“Nanti aja deh, kalau dibocorin sekarang mah nggak seru. Ndi kalau mau
duluan ke kamar asrama, minta kuncinya aja di mba’e. Masih inget mba’e kan?”
“Oh, inget. Anak Keperawatan kan? Yang kamarnya selisih satu pintu dari
kamar teteh?”
“Betul! Tunggu aku ya. Aku kelas ngajar sekitar abis maghrib kok. Ga ada
jadwal malam.”
“Oke deh, sip. Aku ngebolang di kampus aja deh dulu.”
Sore itu, sambil menunggu maghrib, Indi menghabiskan waktu di
perpustakaan. Tempat favoritnya, selain karena ia sangat suka buku,
perpustakaan kampusnya memang nyaman sekali, bahkan untuk tidur hehehe. Dan saat
ini Indi sedang mencari sebuah buku tentang pemikiran seorang filsuf barat,
Plato, untuk melengkapi tugas kuliah Dasar-Dasar Filsafatnya.
Lemari buku yang berjajar dari ujung ke ujung, berisikan deretan-deretan
buku-buku koleksi kampus, baik buku baru maupun tendon*, rupanya merupakan
pemandangan yang entah mengapa sangat dinikmati oleh Indi. Ia dengan buku-buku
jarinya menyentuh setiap punggung buku yang ada di situ. Meneliti satu persatu
judul yang tertulis di sana, mengambilnya, mengecek sebentar daftar isi dan
isinya, lalu mengembalikan ke tempatnya semula dan mencari buku lain yang jauh
lebih tepat. Ada sekitar 15 menit Indi melakukan hal itu ketika ia melihat
seorang gadis manis berpipi tembam yang duduk di salah satu sudut lantai dua perpustakaan.
Tak perlu memastikan dua kali bagi Indi untuk bisa mengenali gadis
berkulit cerah itu, kulit yang dimiliki oleh gadis-gadis Palembang. Indi sudah
mengenalinya sejak melihat cara berkerudungnya, khas. Baru saja hendak mencolek
pundak gadis itu, tetiba ia sudah menengok kea rah Indi.
“Lha In, lagi nyari buku apa?” suaranya yang juga khas, menyapa Indi
dengan riang.
“Yah, Tha, baru aja mau aku towel, tau-tau kamu udah nengok duluan.” Indi
tidak menjawab pertanyaan gadis yang bernama Maretha itu.
“Hahahaha, sudah masuk radarku tau. Makanya aku udah tau sebelum kamu
colek!”
“Halah, gee r!”
“Tumben belum pulang, In?”
“Lagi nunggu maghrib, Tha. Nanti mau ke asrama. Teteh minta aku nginep
di sana, ada yang mau diomongin katanya.”
“Haaa Teteh udah bilang?” mata Retha berbinar lucu.
“Bilang apa?”
“Oh, berarti belum bilang ya. Ya udah, tunggu aja. Nanti aku ikutan
ngobrolnya kok, hehehehe.”
“Ya ampun, kalian ada apaan sih, dari tadi sok berteka-teki gini?”
“Udah, ga usah dipikirin. Eh, apa mau ke asrama sekarang? Main ke
kamarku aja dulu, makan di kantin asrama aja, lebih murah hohoho.”
“Eh boleh tuh. Kangen masakan kantin asrama. Bisa makan puas tapi aman
di kantong hehehe.”
“Hayoklah kalau begitu.”
Ketika langit sore mewarnai dirinya dengan oranye khas lembayung senja,
kedua mahasiswi berjilbab itu melangkahkan kaki menuju halte bikun terdekat,
menanti bis kuning yang akan mengantar mereka ke asrama.
---***---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar