Memang ia belum menemukan bukti apapun saat itu, namun feelingnya bermain sangat kuat di sana. Perasaan cemasnya tak kunjung reda ketika suaminya berada di negeri yang terkenal dengan animenya itu. Setiap kali suaminya menelepon, entah mengapa justru pertengkaran yang terjadi. Ada saja hal yang ia curigai, mulai dari foto-foto yang dikirim, tag foto yang tidak di-approve di media sosial suaminya, sampai suara tawa renyah seorang wanita di samping suaminya saat suaminya tengah meneleponnya. Untuk urusan foto ia masih bisa menahan diri untuk tidak bertanya, namun untuk hal terakhir ia langsung menanyakannya.
"Itu suara siapa?" Indi bertanya tergesa.
"Oh, temen, dari Chapter Bandung. Lagi main ke kamar." Jawab Tri sekenanya.
"Siapa? Kok sampai main ke kamar? Sendirian? Kok bisa sih? Ga risih?" Indi memberondong pertanyaan kepada Tri.
Yang ditanya jelas tidak nyaman. Namun jangan salah, perasaan Indi saat itu sangat kalut. Ia sangat khawatir dengan suara perempuan dan kamar. Bukan salahnya jika pikiran macam-macam hadir di benaknya. Mengingat suaminya sedang jauh di sana, bertemu wanita, di negara yang konon romantis, ditambah ia juga menyadari jika organisasi ini bukanlah organisasi 'hijau' yang banyak berisi dan berpaham ingat akhirat, organisasi ini berbeda dari organisasi-organisasi yang biasa ia ikuti.
"Ayang kenapa sih? Jangan suudzan gitulah sama suaminya. Dia juga ga sendiri kok. Ini ada teman-teman lainnya juga dari Bandung. Lagian kayak mas ga tau batasan aja, sih?!" Yang di seberang sana menjawab agak sewot.
Indi kesal, sedih, kecewa, sejujurnya. Ia merasa Tri semakin mencair. Berbeda dengan Tri yang ia kenal dulu, supel namun masih tahu batasan. Tri yang ia kenal tak akan mendekati wanita sampai sejauh ini, ia memang ramah, namun ia tahu mana yang boleh dan yang tidak.
"Beneran ada orang lain lagi selain kalian berdua?" Indi bertanya, tapi sebetulnya mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri bahwa suaminya masih tahu batasan, meski ini adalah langkah yang sangat sulit.
"Ayang kenapa sih? Kita lagi jauh begini, dan ayang ga percaya sama mas?! Sebagai istri harusnya ayang doain yang terbaik untuk suaminya, bukan dicemburuin ga jelas begini, diberondong pertanyaan, dan dicurigai. Laki-laki mana ada yang tahan!"
Indi tercekat. Air mata yang sudah sejak tadi menggenang di pelupuknya kini menetes di jilbabnya. Kenapa Tri seperti ini? Indi sangat kecewa, sangat sedih. Daripada keluar hal-hal yang lebih buruk dalam kata-katanya, ia memilih menutup telepon via media sosial pribadi tersebut.
Ia ingin sekali menangis, mengadu, tapi entah pada siapa. Namun belum lagi ia menangis puas, hp-nya kembali berdering. Telepon masuk dari suaminya.
Ia memutuskan tidak mengangkatnya. Ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya.
Namun telepon itu terus menerus berdering. Lalu berganti pesan masuk. Lalu berdering lagi. Terus saja demikian sampai 5 menitan. Hingga akhirnya membuat Indi memutuskan untuk mengangkatnya.
"Ayang kenapa sih? Nggak ada sopan santunnya banget sama suami, main tutup-tutup aja! Mas ini udah ngeluangin waktu untuk nelepon di sela-sela jadwal mas yang padat di sini! Mau nanyain kabar ayang, mau nanyain dan ngobrol sama anak-anak, tapi yang mas dapat apa? Cemburu lagi, curiga lagi, ditutup lagi teleponnya. Ayang tuh keterlaluan banget jadi istri!"
Indi ingin sekali melempar barang di dekatnya yang bisa ia raih. Ia merasa sakit hati dengan perlakuan yang diterimanya. Ia cemburu, gundah, gelisah, lalu ketika mengungkapkannya pada suami satu-satunya ia justru mendapat respon demikian. Ia butuh jeda, butuh nafas, butuh waktu berpikir jernih. Namun Tri tidak memberikannya. Tri memang tipe yang demikian, tak pernah sabar menyelesaikan masalah rumah tangga, alasannya agar tidak jadi pemikirannya karena ia harus memikirkan yang lain. Namun bagi Indi, ini hal berat karena Indi tipe yang harus ada jeda untuk bisa menyerap dan berpikir ulang.
Ketika hening di antara mereka, lagi-lagi suara wanita di dekat suaminya terdengar. Suara khas seperti yang biasanya Indi keluarkan saat sedang berdua dengan Tri, suara yang manja dan mendayu. Namun bedanya suara ini kental sekali dengan aksen sundanya, terdengar sangat renyah, terdengar sangat menggoda.
Tubuh Indi terdiam. Dia ingin sekali secepatnya mengakhiri semua percakapan ini dan berlari agar bisa sampai ke tempat di mana suaminya berada saat ini untuk membuktikan kebenaran perkataan suaminya yang sedang berusaha meyakinkannya.
Namun sebagai seorang ibu rumah tangga tanpa penghasilan, ia tak memiliki cukup tabungan untuk sekadar membayar ongkos ke bandara. Pun ada uang, itu pegangan dari suaminya selama suaminya pergi, dan peruntukannya adalah untuk anak-anak mereka. Indi bukan tipe yang memakai uang dari suami untuk kepentingan pribadi, anak selalu diutamakan. Bahkan meski ia harus nombok, ia rela mengambil jatah jajan kosmetik dan perawatannya yang tidak sampai setengah juta perbulan untuk menutupi kebutuhan anak-anak, asalkan anak-anak sehat dan bahagia.
Indi tak bisa berpikir jernih. Pikirannya melayang ke mana-mana. Air matanya sudah membasahi jilbab dan bajunya. Dan hatinya sudah tak berbentuk. Apapun yang kemudian disampaikan oleh suaminya di telepon, tak mampu ia cerna.
Dan setelah telepon itu ditutup, Indi menangis sejadi-jadinya di atas kasur. Ia menutupi wajahnya dengan bantal agar tak ada orang yang mendengar isaknya.
Indi tak tahu ini adalah awal mula dari rangkaian baru takdir hidupnya. Yang Indi tahu, hatinya hancur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar