Wanita itu menjawab dengan lembut, tapi
menusuk, "Tidak Mba, saya tidak akan pergi dari suami Mba, selama bukan
suami Mba yang meminta. Saya juga berhak mendapatkan seorang imam untuk saya,
Mba!"
Indi tertegun mendengar jawaban perempuan
itu. Bukan hanya dia kecewa, ingin marah, dan kesal. Ia tidak menyangka seorang
wanita bisa berkata sejahat itu pada wanita lainnya. Pada wanita yang sedang
mempertahankan suaminya demi keutuhan rumah tangganya dan demi anak-anaknya.
Indi menggigil.
Sejak awal ia tahu kalau wanita di hadapannya ini bukanlah wanita baik-baik.
Karena tidak ada wanita baik-baik yang mau diajak pergi-pergi oleh suami orang.
Wanita ini selain bukan wanita baik-baik, juga wanita jahat.
Apa beda bukan wanita baik-baik dengan
wanita jahat? Bukan wanita baik-baik adalah wanita yang tidak mengerti atau
tidak ingin mengerti seperti apa moral yang benar. Tapi wanita jahat adalah
satu tingkat di atas itu, dia bukan hanya tak bermoral baik, namun ia akan
melakukan hal apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan!
--***--
"Mas, makan yuk, makanannya udah siap tuh."
Indi menjawil dagu Tri, suaminya, yang sedang asyik mengetik
sesuatu di iphone 6 plus warna putih.
"Iya, ayang siapin aja dulu nasinya. Nanti mas nyusul.”
"Iya, ayang siapin aja dulu nasinya. Nanti mas nyusul.”
"Ya ampun mas, benar-benar deh sama hand phone tuh udah
kayak sama soulmate, nggak bisa lepas." Indi menggelengkan kepala melihat
polah suaminya yang berbicara padanya namun pandangannya tak lepas dari
handphone yang dipegang.
Indi pun berjalan menuju meja makan. Mengambil piring dan menyendokkan
nasi ke dalamnya. Ia menunggu semenit, dua menit, tiga menit, tak ada
pergerakan dari Tri.
"Mas..."
"Okay, okay, siap boss. Mas datang! Jangan galak-galak kenapa sih..."
"Okay, okay, siap boss. Mas datang! Jangan galak-galak kenapa sih..."
"Siapa yang galak? Ayang cuma ga mau mas sakit kalau
makannya ga teratur, salah?"
"Iya, iya. Yuk, makan yuk."
(Continued)
Menarik mencermati tulisan ukhti, kadang terbersit keinginan itu, bila teringat kanjeng Nabi SAW, maka keinginan itu ku buang, salam
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus